Putri Kirana Pertiwi
35415447
1ID02
MANAJEMEN TEKNOLOGI AGRIBISNIS
I.
PENDAHULUAN
Di masa orde
baru pemerintah Indonesia cenderung lebih mengutamakan teknologi canggih yang
berbasis impor yang akibatnya teknologi tersebut berkembang subur di era orde
baru diantaranya adalah industri perkapalan, industri pesawat terbang, dan
industri persenjataan. Di masa orde baru, pengembangan teknologi dianggap tidak
menyejahterakan rakyat. Pertumbuhan ekonomi yang terjadi saat itu bersifat semu
atau tidak seperti yang sebenarnya. Pada masa orde baru, visi teknologi adalah
bagaimana menciptakan suatu teknologi yang canggih tanpa memperhatikan potensi
alam yang dimiliki bangsa Indonesia. (Gumbira-Sa’id dkk,2001:13)
Di masa
reformasi akhirnya pemerintah Indonesia memilih kebijakan teknologi yang utama adalah
pengembangan teknologi di bidang agribisnis. Pemerintah Indonesia menjadikan
agribisnis sebagai salah satu usulan unggulan teknologi nasional yang sangat
tepat. Mengapa demikian? Karena Indonesia memiliki keunggulan komparatif
seperti sumber daya alam yang melimpah, jumlah tenaga kerja yang besar, dan
pasar yang besar. Oleh karena itu, sebaiknya dijadikan basis untuk
mengembangkan teknologi dengan kondisi sosial budaya yang tepat.
Untuk itu saya
mengambil Judul makalah “Manajemen Teknologi Agribisnis” karena saya ingin
memaparkan bagaimana pemanfaatan teknologi dalam Agribisnis dan pentingnya Manajemen
dan Teknologi dalam mengelola Agribisnis. Seperti kita ketahui bahwa di masa
global mendatang, hanya ada Negara-negara yang dapat menguasai teknologi yang
baik yang bisa berada di barisan ekonomi dunia. Oleh karena itu, di abad
teknologi ini, peranan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) sangat menonjol
dalam setiap aspek kehidupan.
II.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Teknologi
“Teknologi pada
hakikatnya melekat pada kehidupan manusia mulai dari teknologi yang paling
sederhana sampai pada yang paling canggih. Teknologi dapat diartikan sebagai
proses yang meningkatkan nilai tambah, produk yang digunakan dan/atau
dihasilkan dalam proses dan sistem di mana proses dan produk merupakan bagian
integral.” (Yusufhadi Miarso,2007).
Selanjutnya
ada seorang ahli sosiologi lainnya yang memberikan definisi mengenai teknologi.
Castells (2004) dalam buku Manajemen Teknologi Agribisnis menyebutkan bahwa
teknologi merupakan suatu kumpulan alat, aturan dan juga prosedur yang
merupakan penerapan dari sebuah pengetahuan ilmiah terhadap sebuah pekerjaan
tertentu dalam suatu kondisi yang dapat memungkinkan terjadinya pengulangan.
Berikut adalah pengertian teknologi
secara umum :
·
Teknologi
adalah sebuah metode praktis yang digunakan untuk menciptakan sesuatu yang
berguna dan bisa digunakan secara berulang kali.
·
Teknologi
diciptakan oleh manusia, banyak berhubungan dengan kegiatan praktis yang
dilakukan manusia sehari hari.
·
Penciptaan
dan juga pengembangan dari sebuah teknologi adalah untuk tujuan pengembangan
diri manusia, dimana teknologi memang sengaja diciptakan untuk membantu
mempermudah pekerjaan dan aktivitas manusia.
·
Dasar
keilmuan yang dimilki oleh teknologi adalah keilmuan sain, yang merupakan versi
praktis atau praktikal dari sebuah sains.
·
Setiap
teknologi bisa diciptakan dan juga dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan
juga kemampuan yang dimiliki manusia. Batasan dari sebuah teknologi hanyalah
pikiran manusia. Selama manusia bisa mencari ide – ide baru, maka pengembangan
teknologi tidak akan pernah berhenti.
Dengan
bantuan teknologi, manusia cenderung mempunyai banyak pilihan dalam
mengembangkan bidang-bidang yang diminatinya. Salah satunya, pilihan yang dapat
ditawarkan untuk pengembangan agroindustri (Gumbira Sa’id et al,2001:21), yakni :
a.
Jenis
teknologi, prospek, cara penerapan, dan pasar;
b.
Jumlah
modal yang harus ditanamkan (biasanya disesuaikan dengan besar kecilnya skala
usaha yang akan dilaksanakan);
c.
Cara
penanaman modal, baik melalui penanaman modal asing (PMA), penanaman modal
dalam negeri (PMDN), atau non PMA- PMDN;
d.
Produk
dan nilai tambahnya.
Selain itu, di dalam buku Manajemen
Teknologi Agribisnis, Hubeis(1993) juga melakukan pembagian tipologi teknologi
ke dalam empat kelompok teknologi, yaitu :
1.
Teknologi
standar dengan system produksi standar, peralatan standar, dan pekerja
berkualifikasi sedang (contoh : susu pasteurisasi, sirup, dan selai buah-buahan
skala menengah);
2.
Teknologi
mutakhir dengan system produksi kompleks, peralatan kompleks dan pekerja
berkualifikasi tinggi (contoh : industri makanan dan minuman kaleng, kultur
jaringan, dan industri kertas);
3.
Teknologi
tradisional dengan system produksi standar, peralatan tidak banyak, dan pekerja
kurang berkualifikasi (contoh : industri rumahan gula merah batok, kerupuk
sagu, dan ikan asin);
4.
Teknologi
transisi dengan system produksi standar, peralatan sederhana sampai modern, dan
pekerja kurang berkualifikasi (contoh : industri tempe dan tahu skala menengah,
industri pakan ternak, dan nata de coco skala menengah).
B.
Pengertian
Agribisnis
Agribisnis dapat didefinisikan
sebagai keseluruhan kegiatan meliputi manufaktur, distribusi kebutuhan usaha tani,ternak
, proses produksi usaha tani atau ternak, penyimpanan, pengolahan, serta
distribusi hasil atau komoditas dari usaha tani atau ternak dan jenis lainnya.
Definisi lain yang dapat disebutkan mengatakan bahwa agribisnis adalah setiap
kegiatan perusahaan yang dimaksudkan untuk mencapai laba, meliputi bahan-bahan
pertanian atau pengolahan, pemasaran, transportasi, serta distribusi material
dan produk- produk konsumen.(Diktat,2007)
Pengelolaan sumber daya alam serta perubahan
teknologi dan kelembagaan sedemikian rupa untuk menjamin pemenuhan dan pemuasan kebutuhan manusia secara
berkelanjutan bagi generasi sekarang dan mendatang.
Pembangunan pertanian, kehutanan, dan perikanan
harus mampu mengkonservasi tanah, air, tanaman dan hewan, tidak merusak lingkungan, serta secara teknis tepat guna,
secara ekonomi layak, dan secara sosial dapat diterima. Pengertian di atas
membawa beberapa implikasi pembangunan
berwawasan lingkungan, yaitu:
1)
Menjamin terpenuhinya secara
berkesinambungan kebutuhan dasar nutrisi bagi masyarakat, baik untuk generasi
masa kini maupun yang akan datang,
2)
Dapat menyediakan lapangan kerja dan
pendapatan yang layak yang memberikan tingkat kesejahteraan dalam kehidupan yang wajar,
3)
Memelihara kapasitas produksi peternakan
yang berwawasan lingkungan,
4)
Mengurangi dampak kegiatan pembangunan peternakan
yang dapat menimbulkan pencemaran dan penurunan
kualitas lingkungan hidup, dan
5)
Menghasilkan berbagai produk peternakan,
baik primer maupun hasil olahan, yang berkualitas dan higienis serta berdaya saing tinggi.
C. Agribisnis
Peternakan
Agribisnis tidak hanya dalam bidang pertanian
melainkan terdapat juga agribisnis dalam bidang peternakan. Agribisnis dalam
bidang peternakan hampir sama dengan agribisnis dalam bidang pertanian yaitu
meliputi kegiatan manufaktur, penyimpanan, pengolahan serta distribusi hasil
kepada masyarakat.
Pada awalnya pemeliharaan ternak oleh
masyarakat hanya untuk memenuhi
kebutuhan diri sendiri dan keluarga. Namun demikian,
sejalan dengan perkembangan zaman, kegiatan peternakan telah mengalami banyak perubahan dan perkembangan yang
mengarah pada bentuk usaha sebagai sumber pendapatan. Agar dalam menjalani usaha peternakan bisa menguntungkan maka
dibutuhkan pengelolaan efektif dan efisien yang diistilahkan dengan sebutan
agribisnis peternakan.
Menurut Rahardi dan Hartono (2006:5) Agribisnis
peternakan merupakan sistem pengelolaan ternak secara terpadu dan menyeluruh yang
meliputi semua kegiatan mulai dari manufaktur, distribusi, penyimpanan, dan
pengolahan, serta penyaluran dan pemasaran produk peternakan yang didukung oleh
lembaga penunjang seperti perbankan dan kebijakan pemerintah.
D. Pemanfaatan Teknologi dalam Agribisnis
Teknologi sangat
berperan penting dalam Agribisnis. Banyak sekali manfaat teknologi dalam sektor
agribisnis, baik itu agribisnis peternakan maupun agribisnis pertanian. Berikut
ini adalah pemanfaatan teknologi dalam Agribisnis baik peternakan maupun
pertanian :
1.
Aplikasi Teknologi dalam Pengembangan
Agribisnis Jeruk
Beberapa
subkomponen teknologi seperti penggunaan perangkap kuning, penyiraman tanah
dengan insektisida, penggunaan sex feromon, pemberongsongan, pemangkasan
arsitektur, penyiraman, pemanenan secara benar, dan konsolidasi pengelolaan
kebun, memiliki sifat inovasi yang berkategori nilai rendah. Subkomponen
teknologi yang paling menonjol walaupun baru dikenal petani namun paling cepat
dan mudah diadopsi atau diaplikasikan adalah penggunaan teknologi penyaputan
batang dengan bubur Kalifornia. (Ridwan,
H.K. et al.2008)
2.
Pemerah Susu Sapi dengan Menggunakan
Mesin
Metode pemerahan susu sapi dahulu kala hanya dengan cara
tradisional atau memerah dengan tangan sendiri. Namun sekarang para peternak
sapi dapat menghasilkan susu dari sapinya selain memerah dengan tangan tapi
juga terdapat alat modern yakni dengan menggunakan mesin pemerah susu.
Bagaimana Anda menggunakannya? Anda
tinggal memasukan alat pemerah susu tersebut ke setiap puting sapi betina, lalu
otomatis mesin itu menyedot susu sapi kemudian menampungnya di tempat
penampungan dari mesin tersebut. Dengan alat ini susu sapi dapat Anda peroleh
dengan sangat praktis. Anda dapat menghemat waktu karena prosesnya lebih cepat
dibandingkan dengan cara tradisional (memakai tangan) juga hasil perolehan
liter susu sapi lebih banyak. Apabila menggunakan tangan, susu yang bisa
diperoleh dari seekor sapi sehat bisa mencapai 8-9 liter. Namun, apabila
menggunakan mesin bisa mencapai 11-12 liter. Selain itu, susu sapi yang
dihasilkan lebih higienis apabila menggunakan mesin.
3.
Alat Penanam Padi
Jarwo Transplanter
Alat ini
direkomendasikan oleh bagian penelitian dan pengembangan (Litbang)
Kementerian Pertanian.
Jarwo merupakan
kependekan dari jajar legowo dari jawa timur. Konsep alat ini adalah
memberikan jarak yang pas antara satu barisan padi dan barisan padi lainnya.
menururt riset, sistem ini ternyata mampu meningkatkan produksi sampai dengan
30%. Selain itu jarak yang lebar anatar baris juga memudahkan untuk
pemeliharaan tanaman padi.
Masih banyak lagi teknologi yang digunakan dalam
Agribisnis. Tentunya teknologi tersebut dapat membantu para petani dan peternak
dalam mengolah ladang mereka. Teknologi tersebut memiliki manfaat namun juga
dapat merugikan. Manfaat teknologi sudah jelas seperti yang diatas yaitu dapat
membantu petani atau peternak dalam mengelola ladang mereka. Namun, kerugian
akibat dampak teknologi adalah sebagai berikut:
1.
Rusaknya tanah
pertanian akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan dan terus menerus
2.
Pekerjaan manusia digantikan oleh teknologi. Jadi,
semakin banyak pengangguran
3.
Tekanan
terhadap tanah yang dihasilkan oleh traktor dan perlengkapannya dapat
menyebabkan pemadatan yang signifikan terhadap lapisan tanah dan juga
menghambat pertumbuhan tanaman).
E.
Manajemen, Teknologi, dan Agribisnis
Manajemen dalam bidang agribisnis
mencakup semua aktivitas yang menerapkan berbagai prinsip dan pengetahuan umum
manajemen yang baku pada kegiatan agribisnis. Dalam mengelola kegiatan
agribisnis, pihak manajemen perlu berkreasi dalam melakukan suatu terobosan
dengan menggunakan keahlian yang unik. Hal ini dikarenakan sifat agribisnis itu
sendiri yang unik.
Menurut Rachmayanti dalam (Gumbira-Sa’id
et al,2001:24) Terdapat delapan hal penting yang menyebabkan manajemen dalam
agibisnis bersifat unik yaitu :
1. Banyak jenis bisnis yang dapat dilakukan dalam sector
agribisnis, yakni mulai dari lahan pertanian sampai ke pengangkutan,
pengolahan, penjualan, pengemasan, penyimpanan, rumah makan, dan lain-lain
2. Terdapat banyak bisnis yang berbeda yang dapat dilakukan untuk
menangani perpindahan barang dari petani ke konsumsi melalui pedagang pengecer
3. Pada dasarnya hampir semua usaha dalam bidang agribisnis
berhubungan secara langsung atau tidak langsung dengan para petani produsen
pangan dan serat. Tidak ada industri lain pun yang dibangun di sekitar produsen
bahan baku
4. Skala agribisnis beragam, dari ukuran raksasa sampai dengan
ukuran rumah tangga
5. Skala agribisnis biasanya kecil dan harus bersaing di pasar
bebas, di mana terdapat banyak penjual dan sedikit pembeli. Jumlah dan ukuran
agribisnis biasanya tidak dapat membentuk perusahaan monopoli. Pada agribisnis
tertentu, diferensiasi produk juga sangat sulit terjadi
6. Agribisnis cenderung bersifat konservatif, dibandingkan
dengan jenis bisnis lainnya. Hal ini dikarenakan filosofi hidup para petani
yang tradisional
7. Agribisnis cenderung berorientasi pada keluarga. Oleh karena
itu, banyak usaha dalam agribisnis yang dikelola oleh keluarga
8. Agribisnis juga cenderung berorientasi kepada masyarakat.
Pada umumnya mereka bertempat tinggal di kota-kota kecil atau pelosok pedesaan.
“Karena bagaimanapun juga suatu
usaha akan berjalan baik apabila memiliki manajemen perusahaan yang tertata
dengan baik. Manajemen perusahaan yang semakin baik akan berpengaruh terhadap
reputasi perusahaan dimata semua pihak, baik pembeli, pemasok dan investor.” (Amalia
Sholehana et al.2012)
Dengan memperhatikan delapan faktor
tersebut diatas, manajemen dalam bidang agribisnis merupakan seni dalam
menyukseskan penerapan prinsip-prinsip manajemen yang baku, untuk memenuhi
hasil-hasil yang diinginkan, dengan menggunakan berbagai sumber daya yang
terdapat pada perusahaan agribisnis tersebut.
Teknologi secara tidak langsung
terkait dengan sistem ekonomi, budaya dan politik. Perubahan-perubahan
teknologi yang terjadi, baik oleh sebab ekonomi, budaya, maupun politik, dapat
menimbulkan dampak positif dan negatif bagi kehidupan masyarakat. Oleh karena
itu, manajemen teknologi diperlukan untuk meminimalkan dampak negatif dan
memaksimalkan manfaat yang diperoleh. Dalam bidang bisnis manajemen teknologi
juga berkaitan erat dengan kegiatan operasional peternakan untuk menghasilkan
produk dan jasa bermutu tinggi.
Menurut Tjakraatmadja (1997),
manajemen teknologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang dibutuhkan untuk
memaksimumkan nilai tambah suatu teknologi dengan cara melakukan proses
manajemen yang tepat. Dengan adanya fungsi manajemen tersebut, maka ruang
lingkup penerapan manajemen teknologi dalam bidang agribisnis menjadi sangat
luas, mulai dari perencanaan teknologi sampai dengan pengawasan teknologi dalam
rangka mencapai nilai tambah yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan dan
harapan konsumen.
III.
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan diatas dapat
disimpulkan beberapa hal, yaitu :
1.
Agribisnis sudah menjadi
pola sosial budaya masyarakat di Indonesia dalam memenuhi kebutuhan ekonomi dan
kebutuhan pangan di Indonesia. Baik itu agribisnis peternakan maupun agribisnis
pertanian.
2.
Teknologi sangat
berperan penting dalam membantu para peternak dan petani dalam mengelola
Agribisnis. Tetapi, disisi lain terdapat juga kerugian yang diakibatkan oleh
teknologi. Oleh karena itu, kita harus memiliki manajemen yang baik dalam Agribisnis.
3.
Dalam agribisnis kita
harus bisa menyeimbangkan manajemen dan teknologi karena diperlukan untuk meminimalkan
dampak negatif dan memaksimalkan manfaat yang diperoleh. Dalam bidang bisnis
manajemen teknologi juga berkaitan erat dengan kegiatan operasional peternakan
untuk menghasilkan produk dan jasa bermutu tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Amalia Sholehana et al (2012) “Formulasi Strategi Peningkatan Produksi Domba” : Jurnal
Manajemen & Agribisnis 9:77-85
Gumbira Sa’id, Rachmayanti, dan MZ
Muttaqin. 2001. “Manajemen Teknologi Agribisnis”. Jakarta: Penerbit Ghalia
Indonesia,
Hubeis,M. 1993. “Menuju Industri
Kecil Profesional di Era Globalisasi Melalui Pemberdayaan Manajemen Industri”.
Bogor: Orasi Ilmiah Guru Besar Tetap Ilmu Manajemen Industri, Institut
Pertanian Bogor
http://hocuspocus23.blogspot.co.id/2012/12/dampak-mesin-traktor-bidang-pertanian.html
Rahardi, F dan Hartono, Rudi. 2006. “Agribisnis
Peternakan” . Depok : Penebar Swadaya
Ridwan, H.K et al (2008) “Sifat Inovasi dan Aplikasi Teknologi Pengelolaan
Terpadu Kebun Jeruk Sehat dalam Pengembangan Agribisnis Jeruk” : Jurnal Hort
18:477-490
Tjakraatmadja, J.H. 1997. “Manajemen
Teknologi”. Bandung: Studio Manajemen Teknik Industri, Institut Teknologi
Bandung
Miarso, Yusufhadi (2007) “Teknologi
yang Bersifat Humanis” : Jurnal
Pendidikan Penabur 09:50-58