|
No
|
Point
|
Jurnal
1
|
Jurnal
2
|
|
1.
|
Judul
|
PENINGKATAN KAPASITAS GUDANG
DENGAN PERANCANGAN LAYOUT MENGGUNAKAN METODE CLASS-BASED STORAGE
|
PENGUKURAN
DAN PERBAIKAN KINERJA RANTAI PASOK UKM LAPIS BOGOR SANGKURIANG UNTUK
MENINGKATKAN DAYA SAING UKM
|
|
2.
|
Tujuan
Penelitian
|
Merancang
perbaikan tata letak gudang bahan baku sehingga, dapat meningkatkan utilitasi
kapasitas gudang dan percepatan pemenuhan permintaan karton.
|
Pengukuran
dan perbaikan kinerja rantai pasok UKM Lapis Bogor Sangkuriang untuk
meningkatkan daya saing UKM di Indonesia.
|
|
3.
|
Objek
Penelitian
|
Gudang
CV. MDP Semarang
|
UKM
Lapis Bogor Sangkuriang
|
|
4.
|
Metode
Penelitian
|
Class Based Storage
|
a.
SCOR (Supply
Chain Operation Reference
b.
AHP (Analytical
Hierarchy Process
c.
TOPSIS
|
|
5.
|
Hasil
|
Dengan
perancangan tata letak luas gudang bahan baku, kapasitas meningkat menjadi
11.256 lot, maka efisiensi baru dihitung sebesar 128% (11.256: 8.766) atau
dengan kata lain efisiensi meningkat 22% (128% - 102%).
|
Hasil
kinerja rantai pasok UKM LBS secara keseluruhan masih dalam kategori sedang
dengan nilai 68,5%. Matriks yang harus diperbaiki adalah matriks daya
adaptasi (26,6%) dan fleksibilitas (37,5%)
|
Rabu, 08 November 2017
TABEL PERBANDINGAN JURNAL 1 DAN JURNAL 2
RANGKUMAN JURNAL PENGUKURAN DAN PERBAIKAN KINERJA RANTAI PASOK UKM LAPIS BOGOR SANGKURIANG UNTUK MENINGKATKAN DAYA SAING UKM
JUDUL JURNAL : PENGUKURAN DAN PERBAIKAN KINERJA RANTAI PASOK UKM LAPIS BOGOR SANGKURIANG UNTUK MENINGKATKAN DAYA SAING UKM
PENULIS JURNAL :
1. Fatimatuzzahro Diah PD
2. Rizal Syarief
3. Marimin
DARI :
1. Magister Manajemen Bisnis IPB, Kampus MB IPB Jl Raya Pajajaran Bogor
2. Departemen Ilmu Teknologi Pangan, Kampus IPB Darmaga Bogor,
3. Departemen Teknologi Industri Pertanian, Kampus IPB Darmaga Bogor
VOL : Jurnal Teknologi Industri Pertanian 26 (2) : 199-206 (2016)
TAHUN : 2016
PERINGKAS : Putri Kirana Pertiwi
DARI : Universitas Gunadarma
FAK/JURUSAN : Teknologi Industri/ Teknik Industri
TANGGAL MERINGKAS : 8 NOVEMBER 2017
A. ABSTRAK
PENULIS JURNAL :
1. Fatimatuzzahro Diah PD
2. Rizal Syarief
3. Marimin
DARI :
1. Magister Manajemen Bisnis IPB, Kampus MB IPB Jl Raya Pajajaran Bogor
2. Departemen Ilmu Teknologi Pangan, Kampus IPB Darmaga Bogor,
3. Departemen Teknologi Industri Pertanian, Kampus IPB Darmaga Bogor
VOL : Jurnal Teknologi Industri Pertanian 26 (2) : 199-206 (2016)
TAHUN : 2016
PERINGKAS : Putri Kirana Pertiwi
DARI : Universitas Gunadarma
FAK/JURUSAN : Teknologi Industri/ Teknik Industri
TANGGAL MERINGKAS : 8 NOVEMBER 2017
A. ABSTRAK
Pertumbuhan dan perkembangan Usaha Kecil Menengah (UKM) yang saat ini meningkat sejalan dengan tingkat persaingan. Fokus persaingan modern saat ini bukan hanya antar perusahaan, namun sudah menjadi persaingan antar rantai pasok. Oleh karena itu pengusaha harus sudah mempersiapkan strategi yang tepat untuk memperbaiki kinerja rantai pasok untuk meningkatkan daya saing UKM. Lapis Bogor Sangkuriang (LBS) merupakan usaha inovatif pertama yang membuat olahan bolu dengan bahan baku talas, yang saat ini menjadi oleh–oleh khas Kota Bogor. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi rantai pasok UKM LBS, mengukur kinerja rantai pasok UKM LBS berdasarkan model Supply Chain Operation Reference (SCOR) dan memilih prioritas strategi untuk memperbaiki kinerja rantai pasok UKM LBS menggunakan metode Technique Order Preference Similiarity to Ideal Solutions (TOPSIS). Pola rantai pasok UKM LBS terdiri dari aliran langsung dari pemasok ke pabrik dan aliran tidak langsung atau melalui koperasi. Pengukuran kinerja rantai pasok UKM LBS menggunakan kombinasi SCOR dan Analytical Hierarchy Process (AHP) menghasilkan nilai keseluruhan sebesar 68,5% dengan nilai matriks yang harus diperbaiki adalah matriks adaptasi (26,7%) dan fleksibilitas (37,5%) terhadap peningkatan permintaan. Strategi yang diprioritaskan berdasarkan metode TOPSIS adalah meningkatkan produktivitas kinerja mesin dan tenaga kerja.
B. PENDAHULUAN
UKM
menjadi salah satu penyumbang solusi terbesar dalam permasalahan pengangguran
dan peningkatan mutu masyarakat di Indonesia. Diperkuat dengan adanya data dari
Badan Pusat Statistik tahun 2012 menyatakan jumlah UKM mencapai sekitar 99%
dari populasi unit usaha serta menampung lebih dari 92% jumlah tenaga kerja dan
menyumbang laju pertumbuhan sekitar 3,0% dari 5,0% tingkat pertumbuhan ekonomi
nasional. Hal ini menunjukkan tingkat laju pertumbuhan usaha yang lebih tinggi
dibanding usaha-usaha besar.
Pengukuran
kinerja dilakukan untuk mengetahui tingkat kinerja perusahaan, apakah
perusahaan tersebut telah berjalan dengan baik, yaitu dengan tercapainya tujuan
perusahaan yang telah ditetapkan, atau justru mengalami kemunduran. pemilihan
metode dan alat yang akurat untuk mengukur kinerja ini semakin penting bagi
perusahaan maupun kalangan akademisi.
Berdasarkan
Romadhona (2014) yang juga merupakan owner Lapis Bogor Sangkuriang (LBS)
menyatakan bahwa kebanyakan keluhan konsumen adalah tentang persediaan kue yang
habis, kue yang telat datang, konsumen terlambat mengambil dan lain–lain yang
mengakibatkan kekecewaan konsumen. Hal tersebut memperlihatkan bahwa
meningkatnya permintaan konsumen masih belum diimbangi dengan kinerja
perusahaan yang optimal. Oleh karena itu penting dilakukan pengukuran dan
perbaikan kinerja rantai pasok UKM Lapis Bogor Sangkuriang untuk meningkatkan
daya saing UKM di Indonesia.
C. METODE PENELITIAN
Metode penelitian
digunakan agar dapat memecahkan suatu permasalahan. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini, yaitu :
a.
SCOR (Supply
Chain Operation Reference), yang digunakan untuk mengukur peningkatan
kinerja rantai pasok
b.
AHP (Analytical
Hierarchy Process), yang digunakan untuk membandingkan masing-masing rantai
pasok dengan pakar eksternal
c. TOPSIS,
yang digunakan untuk menentukan alternatif perbaikan rantai pasok yang paling
optimal untuk diimplementasikan sesuai dengan hasil pengukuran kinerja rantai
pasok UKM menggunakan SCOR model.
D. HASIL DAN PEMBAHASAN
Menurut
Bolstroff dan Rosenbaum(2012), Nilai SCOR UKM LBS teridentifikasi dalam
kategori sedang dengan nilai 68,5% (Tabel 1). Beberapa nilai matriks ada yang
sudah sangat bagus (>80%), sedang (50<N<80%) dan kurang bagus
(<50%). Matriks yang sangat bagus adalah matriks pemenuhan pesanan (96%) dan
matriks harga pokok penjualan (90,1%). Beberapa praktik terbaik untuk
mempertahankan kinerja pemenuhan pesanan adalah menjaga komunikasi dan
koordinasi antar anggota rantai pasok, serta meningkatkan pengontrolan produk
yang akan didistribusikan, sehingga meminimalisir kelalaian dokumen maupun
produk yang cacat.
Terdapat
tiga nilai matriks yang masih dianggap sedang atau memerlukan upaya peningkatan
kinerja. Nilai matriks tersebut meliputi waktu siklus pemenuhan pesanan
(73,3%), daya adaptasi terhadap penurunan kapasitas (66,7%), dan total biaya
manajemen rantai pasok (57,8%). Untuk itu disarankan meningkatkan waktu siklus
pesanan dengan melakukan peramalan produksi dan permintaan lebih akurat, agar
menghasilkan informasi dan data permintaan, serta produksi yang lebih cepat.
Selain itu perusahaan harus meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan mesin,
agar mampu memenuhi pesanan dengan tepat waktu atau sesuai dengan target yang
diharapkan.
Nilai
matriks yang menjadi perhatian dan dinilai sangat kurang adalah matriks daya
adaptasi rantai pasok terhadap peningkatan kapasitas (26,7%) dan fleksibilitas
rantai pasok terhadap peningkatan permintaan (37,5%). Nilai tersebut
menunjukkan kurang mampunya anggota rantai pasok dalam memenuhi peningkatan
permintaan tak terencana dari konsumen masing–masing, baik selama 30 hari
maupun sebesar 20%. Kondisi ini perlu dievaluasi secara komprehensif dari hulu
ke hilir, karena nilai matriks ini pada masing–masing kinerja ketiga anggota
rantai pasok UKM LBS dinilai rendah, terutama di bagian pemasok bahan baku.
Strategi-strategi
berikut digunakan untuk peningkatan kinerja rantai pasok UKM udemi meningkatkan
daya saing UKM. Perumusan strategi oleh para pakar dilanjutkan dengan penilaian
prioritas strategi yang sesuai dan mampu diimplementasikan oleh UKM LBS.
Penilaian dilakukan dengan metode TOPSIS.
Setelah
mengetahui strategi-strategi, selanjutnya dilakukan perhitungan berdasarkan
rumus TOPSIS untuk mendapatkan prioritas.
Setelah dilakukan
perhitungan berdasarkan rumus TOPSIS didapat bahwa strategi terbaik untuk
memperbaiki kinerja rantai pasok UKM Lapis Bogor Sangkuriang guna meningkatkan
daya saing UKM adalah strategi 1 dengan nilai 0,7323. Strategi 1 adalah
meningkatkan produktivitas kinerja mesin dan tenaga kerja. Strategi ini dinilai
paling diprioritaskan, karena sesuai dengan fokus perbaikan rantai pasok
berdasarkan hasil pengukuran SCOR. Produktivitas mesin disini bisa dengan
peningkatan kapasitas mesin, ataupun penambahan jumlah mesin. Peningkatan
kapasitas mesin bisa dengan menukar tambah mesin yang ada dengan mesin
berkapasitas lebih besar maupun membeli mesin serupa.
Strategi
pendukung untuk meningkatkan kinerja rantai pasok adalah strategi prioritas
kedua dengan nilai 0,7216, yaitu memberikan nilai tambah produk pada setiap
rantai nilai untuk meningkatkan kepuasan konsumen. Nilai tambah produk bisa
berupa inovasi dalam hal barang, maupun jasa pelayanan.Penggunaan teknologi
pada peningkatan nilai tambah ini juga sangat disarankan karena semakin
tingginya tingkat persaingan dan kondisi permintaan konsumen yang semakin
beragam dan unik. Strategi ini dapat diimplementasikan dengan:
a. Membuat
tepung talas yang lebih tahan lama dan anti kutu dengan inovasi produksi dan
kemasan
b. Membuat
kemasan lebih mewah untuk meningkatkan kepuasan konsumen
c. Melengkapi
sertifikasi SNI (Standar Nasional Indonesia), ISO (International
Organization for Standardization) maupun HACCP (Hazard Analysis Critical
Control Point) untuk meningkatkan keamanan produk dan kepercayaan konsumen
d.
Menggunakan teknologi komputer untuk mempermudah
koordinasi antar anggota rantai pasok
e. Melakukan
pemasaran unik seperti beli 3 gratis 1 dan lain–lain
Strategi prioritas ketiga dalam memperbaiki kinerja
rantai pasok UKM LBS ini adalah melakukan peramalan permintaan dan produksi
yang lebih akurat dengan nilai 0,6957. Strategi ini dapat diimplementasikan
dengan mengumpulkan data terkait, menyewa konsultan manajemen produksi maupun
merangkul mahasiswa yang ingin meneliti di bidang tersebut.
E. KESIMPULAN
DAN SARAN
Kesimpulan :
Pola aliran rantai
pasok UKM LBS terdiri dari dua macam, yaitu pola aliran langsung dari pemasok
ke pabrik UKM LBS dan pola aliran yang melalui koperasi. Pengukuran kinerja
rantai pasok menggunakan kombinasi model SCOR dan AHP dinilai komperehensif
menjawab tujuan dari penelitian ini. Hasil kinerja rantai pasok UKM LBS secara
keseluruhan masih dalam kategori sedang dengan nilai 68,5%. Matriks yang harus
diperbaiki adalah matriks daya adaptasi (26,6%) dan fleksibilitas (37,5%)
rantai pasok terhadap peningkatan permintaan.Pemilihan prioritas strategi
dengan metode TOPSIS dinilai cukup sederhana namun menjawab tujuan yang ingin
dicapai. Strategi perbaikan kinerja rantai pasok yang diprioritaskan adalah
meningkatkan produktivitas kinerja mesin dan tenaga kerja.
Saran :
Perbaikan kinerja
rantai pasok UKM LBS dinilai cukup mendesak untuk dilakukan, mengingat nilai
kinerja SCOR masih tergolong sedang. Maka disarankan segera melakukan
peningkatan produktivitas mesin dan tenaga kerja. Peramalan permintaan dan
produksi yang akurat juga bisa dilakukan dengan membayar konsultan manajemen
produksi maupun mencari peneliti yang fokus dengan peramalan produksi dan juga
diharapkan adanya metode dan model baru dalam penelitian selanjutnya.
Powerpoint :
https://www.slideshare.net/secret/hVeoqRFGJ3oRD2
Sumber :
http://journal.ipb.ac.id/index.php/jurnaltin/article/viewFile/14608/10818
Powerpoint :
https://www.slideshare.net/secret/hVeoqRFGJ3oRD2
Sumber :
http://journal.ipb.ac.id/index.php/jurnaltin/article/viewFile/14608/10818
Langganan:
Komentar (Atom)


