Rabu, 08 November 2017

RANGKUMAN JURNAL PENGUKURAN DAN PERBAIKAN KINERJA RANTAI PASOK UKM LAPIS BOGOR SANGKURIANG UNTUK MENINGKATKAN DAYA SAING UKM

JUDUL JURNAL : PENGUKURAN DAN PERBAIKAN KINERJA RANTAI PASOK UKM LAPIS BOGOR SANGKURIANG UNTUK MENINGKATKAN DAYA SAING UKM

PENULIS JURNAL :
1. Fatimatuzzahro Diah PD
2. Rizal Syarief
3. Marimin

DARI :
1. Magister Manajemen Bisnis IPB, Kampus MB IPB Jl Raya Pajajaran Bogor
2. Departemen Ilmu Teknologi Pangan, Kampus IPB Darmaga Bogor,
3. Departemen Teknologi Industri Pertanian, Kampus IPB Darmaga Bogor

VOL : Jurnal Teknologi Industri Pertanian 26 (2) : 199-206 (2016)

TAHUN : 2016

PERINGKAS : Putri Kirana Pertiwi

DARI : Universitas Gunadarma

FAK/JURUSAN : Teknologi Industri/ Teknik Industri

TANGGAL MERINGKAS : 8 NOVEMBER 2017

A.  ABSTRAK 
     Pertumbuhan dan perkembangan Usaha Kecil Menengah (UKM) yang saat ini meningkat sejalan dengan tingkat persaingan. Fokus persaingan modern saat ini bukan hanya antar perusahaan, namun sudah menjadi persaingan antar rantai pasok. Oleh karena itu pengusaha harus sudah mempersiapkan strategi yang tepat untuk memperbaiki kinerja rantai pasok untuk meningkatkan daya saing UKM. Lapis Bogor Sangkuriang (LBS) merupakan usaha inovatif pertama yang membuat olahan bolu dengan bahan baku talas, yang saat ini menjadi oleh–oleh khas Kota Bogor. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi rantai pasok UKM LBS, mengukur kinerja rantai pasok UKM LBS berdasarkan model Supply Chain Operation Reference (SCOR) dan memilih prioritas strategi untuk memperbaiki kinerja rantai pasok UKM LBS menggunakan metode Technique Order Preference Similiarity to Ideal Solutions (TOPSIS). Pola rantai pasok UKM LBS terdiri dari aliran langsung dari pemasok ke pabrik dan aliran tidak langsung atau melalui koperasi. Pengukuran kinerja rantai pasok UKM LBS menggunakan kombinasi SCOR dan Analytical Hierarchy Process (AHP) menghasilkan nilai keseluruhan sebesar 68,5% dengan nilai matriks yang harus diperbaiki adalah matriks adaptasi (26,7%) dan fleksibilitas (37,5%) terhadap peningkatan permintaan. Strategi yang diprioritaskan berdasarkan metode TOPSIS adalah meningkatkan produktivitas kinerja mesin dan tenaga kerja. 

B.  PENDAHULUAN 
UKM menjadi salah satu penyumbang solusi terbesar dalam permasalahan pengangguran dan peningkatan mutu masyarakat di Indonesia. Diperkuat dengan adanya data dari Badan Pusat Statistik tahun 2012 menyatakan jumlah UKM mencapai sekitar 99% dari populasi unit usaha serta menampung lebih dari 92% jumlah tenaga kerja dan menyumbang laju pertumbuhan sekitar 3,0% dari 5,0% tingkat pertumbuhan ekonomi nasional. Hal ini menunjukkan tingkat laju pertumbuhan usaha yang lebih tinggi dibanding usaha-usaha besar.
Pengukuran kinerja dilakukan untuk mengetahui tingkat kinerja perusahaan, apakah perusahaan tersebut telah berjalan dengan baik, yaitu dengan tercapainya tujuan perusahaan yang telah ditetapkan, atau justru mengalami kemunduran. pemilihan metode dan alat yang akurat untuk mengukur kinerja ini semakin penting bagi perusahaan maupun kalangan akademisi.
Berdasarkan Romadhona (2014) yang juga merupakan owner Lapis Bogor Sangkuriang (LBS) menyatakan bahwa kebanyakan keluhan konsumen adalah tentang persediaan kue yang habis, kue yang telat datang, konsumen terlambat mengambil dan lain–lain yang mengakibatkan kekecewaan konsumen. Hal tersebut memperlihatkan bahwa meningkatnya permintaan konsumen masih belum diimbangi dengan kinerja perusahaan yang optimal. Oleh karena itu penting dilakukan pengukuran dan perbaikan kinerja rantai pasok UKM Lapis Bogor Sangkuriang untuk meningkatkan daya saing UKM di Indonesia. 

C.     METODE PENELITIAN 
    Metode penelitian digunakan agar dapat memecahkan suatu permasalahan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu :
a.       SCOR (Supply Chain Operation Reference), yang digunakan untuk mengukur peningkatan kinerja rantai pasok
b.      AHP (Analytical Hierarchy Process), yang digunakan untuk membandingkan masing-masing rantai pasok dengan pakar eksternal
c.       TOPSIS, yang digunakan untuk menentukan alternatif perbaikan rantai pasok yang paling optimal untuk diimplementasikan sesuai dengan hasil pengukuran kinerja rantai pasok UKM menggunakan SCOR model.

D. HASIL DAN PEMBAHASAN 


     Menurut Bolstroff dan Rosenbaum(2012), Nilai SCOR UKM LBS teridentifikasi dalam kategori sedang dengan nilai 68,5% (Tabel 1). Beberapa nilai matriks ada yang sudah sangat bagus (>80%), sedang (50<N<80%) dan kurang bagus (<50%). Matriks yang sangat bagus adalah matriks pemenuhan pesanan (96%) dan matriks harga pokok penjualan (90,1%). Beberapa praktik terbaik untuk mempertahankan kinerja pemenuhan pesanan adalah menjaga komunikasi dan koordinasi antar anggota rantai pasok, serta meningkatkan pengontrolan produk yang akan didistribusikan, sehingga meminimalisir kelalaian dokumen maupun produk yang cacat.
Terdapat tiga nilai matriks yang masih dianggap sedang atau memerlukan upaya peningkatan kinerja. Nilai matriks tersebut meliputi waktu siklus pemenuhan pesanan (73,3%), daya adaptasi terhadap penurunan kapasitas (66,7%), dan total biaya manajemen rantai pasok (57,8%). Untuk itu disarankan meningkatkan waktu siklus pesanan dengan melakukan peramalan produksi dan permintaan lebih akurat, agar menghasilkan informasi dan data permintaan, serta produksi yang lebih cepat. Selain itu perusahaan harus meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan mesin, agar mampu memenuhi pesanan dengan tepat waktu atau sesuai dengan target yang diharapkan.
Nilai matriks yang menjadi perhatian dan dinilai sangat kurang adalah matriks daya adaptasi rantai pasok terhadap peningkatan kapasitas (26,7%) dan fleksibilitas rantai pasok terhadap peningkatan permintaan (37,5%). Nilai tersebut menunjukkan kurang mampunya anggota rantai pasok dalam memenuhi peningkatan permintaan tak terencana dari konsumen masing–masing, baik selama 30 hari maupun sebesar 20%. Kondisi ini perlu dievaluasi secara komprehensif dari hulu ke hilir, karena nilai matriks ini pada masing–masing kinerja ketiga anggota rantai pasok UKM LBS dinilai rendah, terutama di bagian pemasok bahan baku. 
Strategi-strategi berikut digunakan untuk peningkatan kinerja rantai pasok UKM udemi meningkatkan daya saing UKM. Perumusan strategi oleh para pakar dilanjutkan dengan penilaian prioritas strategi yang sesuai dan mampu diimplementasikan oleh UKM LBS. Penilaian dilakukan dengan metode TOPSIS.
Setelah mengetahui strategi-strategi, selanjutnya dilakukan perhitungan berdasarkan rumus TOPSIS untuk mendapatkan prioritas.
Setelah dilakukan perhitungan berdasarkan rumus TOPSIS didapat bahwa strategi terbaik untuk memperbaiki kinerja rantai pasok UKM Lapis Bogor Sangkuriang guna meningkatkan daya saing UKM adalah strategi 1 dengan nilai 0,7323. Strategi 1 adalah meningkatkan produktivitas kinerja mesin dan tenaga kerja. Strategi ini dinilai paling diprioritaskan, karena sesuai dengan fokus perbaikan rantai pasok berdasarkan hasil pengukuran SCOR. Produktivitas mesin disini bisa dengan peningkatan kapasitas mesin, ataupun penambahan jumlah mesin. Peningkatan kapasitas mesin bisa dengan menukar tambah mesin yang ada dengan mesin berkapasitas lebih besar maupun membeli mesin serupa.
Strategi pendukung untuk meningkatkan kinerja rantai pasok adalah strategi prioritas kedua dengan nilai 0,7216, yaitu memberikan nilai tambah produk pada setiap rantai nilai untuk meningkatkan kepuasan konsumen. Nilai tambah produk bisa berupa inovasi dalam hal barang, maupun jasa pelayanan.Penggunaan teknologi pada peningkatan nilai tambah ini juga sangat disarankan karena semakin tingginya tingkat persaingan dan kondisi permintaan konsumen yang semakin beragam dan unik. Strategi ini dapat diimplementasikan dengan:
a.       Membuat tepung talas yang lebih tahan lama dan anti kutu dengan inovasi produksi dan kemasan
b.      Membuat kemasan lebih mewah untuk meningkatkan kepuasan konsumen
c.   Melengkapi sertifikasi SNI (Standar Nasional Indonesia), ISO (International Organization for Standardization) maupun HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) untuk meningkatkan keamanan produk dan kepercayaan konsumen
d.      Menggunakan teknologi komputer untuk mempermudah koordinasi antar anggota rantai pasok
e.       Melakukan pemasaran unik seperti beli 3 gratis 1 dan lain–lain
Strategi prioritas ketiga dalam memperbaiki kinerja rantai pasok UKM LBS ini adalah melakukan peramalan permintaan dan produksi yang lebih akurat dengan nilai 0,6957. Strategi ini dapat diimplementasikan dengan mengumpulkan data terkait, menyewa konsultan manajemen produksi maupun merangkul mahasiswa yang ingin meneliti di bidang tersebut.

E.  KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan    :
Pola aliran rantai pasok UKM LBS terdiri dari dua macam, yaitu pola aliran langsung dari pemasok ke pabrik UKM LBS dan pola aliran yang melalui koperasi. Pengukuran kinerja rantai pasok menggunakan kombinasi model SCOR dan AHP dinilai komperehensif menjawab tujuan dari penelitian ini. Hasil kinerja rantai pasok UKM LBS secara keseluruhan masih dalam kategori sedang dengan nilai 68,5%. Matriks yang harus diperbaiki adalah matriks daya adaptasi (26,6%) dan fleksibilitas (37,5%) rantai pasok terhadap peningkatan permintaan.Pemilihan prioritas strategi dengan metode TOPSIS dinilai cukup sederhana namun menjawab tujuan yang ingin dicapai. Strategi perbaikan kinerja rantai pasok yang diprioritaskan adalah meningkatkan produktivitas kinerja mesin dan tenaga kerja.
Saran              :
Perbaikan kinerja rantai pasok UKM LBS dinilai cukup mendesak untuk dilakukan, mengingat nilai kinerja SCOR masih tergolong sedang. Maka disarankan segera melakukan peningkatan produktivitas mesin dan tenaga kerja. Peramalan permintaan dan produksi yang akurat juga bisa dilakukan dengan membayar konsultan manajemen produksi maupun mencari peneliti yang fokus dengan peramalan produksi dan juga diharapkan adanya metode dan model baru dalam penelitian selanjutnya.

Powerpoint :
https://www.slideshare.net/secret/hVeoqRFGJ3oRD2

Sumber :
http://journal.ipb.ac.id/index.php/jurnaltin/article/viewFile/14608/10818

Tidak ada komentar:

Posting Komentar